![]() |
LSM Aliansi Indonesia Kabupaten Torut Sorot dugaan adanya jual beli jabatan Kepsek, Frederik Sampebua. |
Baca Juga :
- Bupati Luwu Timur Hadiri Syukuran Adat "Mangrara Banua" Rumpun Keluarga di Toraja Utara
- Hadiri Pembukaan SKBKT 2018, Kadis Sosial Luwu Timur Ikut Promosikan Hasil UKM Asal Luwu Timur
- Video : MTs Al-Ihsan Memprihatinkan, Kasek Malas Ngantor
- Baksos, IPMIBAR Bersama Puskesmas Lamuru Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Tiba di Makassar, Jenazah IYL Dimakamkan Hari Kamis
- Kunker di Torut, Husler Temui Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja
Toraja Utara, Batara Pos
Masih ingat, soal pelantikan Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Toraja Utara (Torut) mengundang polimik ditengah-tengah sesama Kepsek, yang dinilainya, banyak terjadi keganjilan saat proses pelantikan Kepsek berlangsung.
Dari adanya Kepsek yang memiliki dua SK, satu sekolah juga terkesan carut-marutnya proses pelantikan tersebut. Malah, ada sejumlah Kepsek di kabarkan mengundurkan diri selaku Kepsek setelah para guru, sebutan "kaum Oemar Bakri" itu menilai pelantikan Kepsek itu dinilai syarat menyimpang serta tidak sesuai dan tidak efektif yang dinilai merugikan para guru.
Amburadulnya pelantikan Kepsek SD belum lama ini, terus menjadi gunjingan masyarakat Kabupaten Toraja Utara yang terkesan dinilai sejumlah para guru bahwa mekanisme pelantikan tersebut syarat dengan "permainan" dan hal itu akan dapat melemahkan mutu pendidikan Kabupaten Toraja Utara yang menjadikan pendidikan sebagai ikon Kabupaten Toraja Utara.
Begitu beredarnya isu yang terjadi saat ini, sejumlah Kepsek untuk menduduki Kepsek tertentu harus rela merogoh kocek mereka kisaran 10 juta hingga 20 juta rupiah.
Jika apa yang dihembuskan oleh sejumlah masyarakat Kabupaten Toraja Utara mendekati kebenaran, ini bertanda lambat laun akan melemahkan mutu Pendidikan yang terjadi di Bumi penghasil kopi ternama ini.
Seperti yang diungkapkan oleh Frederik Sampebua, Senin (17/04/2018) sebagai aktivis LSM Aliansi Indonesia, akibat carut marutnya pelantikan tersebut mengidentifikasikan warna Pendidikan akan semakin suram.
"Ini, president buruk buat dunia pendidikan Kabupaten Toraja Utara, Toraja Utara sektor pendidikan merupakan modal utama, dan apakah kita dapat mengukir sejarah tahun 1960 an, Toraja dikenal sebagai "gudangnya orang pintar" atau sebaliknya," jelas Frederik.
Saatnya, Toraja mengembalikan citra pendidikan yang sempat mengalami masa keemasan itu." Masyarakat Toraja hanya menjadi andalan mereka soal pendidikan, soal potensi alam kita masih jauh dengan Luwu dan daerah lain sektor potensi alam mereka melimpah. Sementara Toraja hanya SDM yang kita andalkan lewat pendidikan yang berkwalitas," pangkas Frederik.
Laporan : Doni IP
Editor : Astri