Baca Juga :
Banda Aceh. Btr pos –
Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) yang ke-15 resmi ditutup oleh Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, Kamis (11/5), di Stadion Harapan Bangsa Kota Banda Aceh, dengan Aceh sebagai juara umum PENAS XV. Meski atmosfernya tidak sedahsyat acara pembukaan, tapi acara penutupan tetap berlangsung meriah dengan peragaan tari-tarian khas Aceh yang diperagakan para siswa(i) dan mahasiswa(i) dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang ada di Aceh.
Gubernur Zaini Abdullah dalam sambutannya menyampaikan banyak hal. Salah satunya magnet bernama Kopi Gayoh yang memang sangat dikenal di seantero nusantara, bahkan dunia. Gubernur menghimbau seluruh tamu peserta PENAS dari seluruh Provinsi untuk tidak lupa membeli Kopi Gayoh sebagai kenang-kenangan sebelum kembali ke daerah masing-masing. “Jangan pulang dulu sebelum membeli kopi gayoh untuk dibawa ke kampung masing-masing sebagai kenang-kenangan,” ujar Zaini mengawali sambutannya.
Apa yang dilontarkan Zaini mendapat respon yang luar biasa dari peserta PENAS dengan memberikan applaus yang meriah sembari mengatakan, “Harus itu pak Gubernur”. Zaini menambahkan, kopi gayoh adalah kopi arabika dengan cita rasa yang tinggi dan aromanya yang harum, serta merupakan salah satu kopi organik terbaik di dunia. “Kopi gayoh adalah salah satu komoditi unggulan kita yang cita rasanya tinggi dan aromanya yang harum. Jadi, silakan beli kopi gayo untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh,” ujar Zaini sambil tersenyum.
Pada kesempatan itu pula, Zaini berharap agar seluruh peserta tidak sekadar ikut PENAS tanpa ada hal-hal yang bermanfaat yang dapat dijadikan sebagai oleh-oleh ilmu untuk kemajuan pembangunan pertanian dan perikanan di daerah masing-masing. “Kami harapkan, silakan bawa pulang hal-hal yang baik dan bermanfaat demi kemajuan pembangunan pertanian dan perikanan di daerah saudara,” ujar Zaini.
"Ceritakanlah hal-hal yang dapat meyakinkan saudara-saudara kita lainnya yang belum sempat ke Aceh. Ceritakanlah bahwa Aceh ini aman untuk didatangi. Olehnya itu, saya mengajak kepada kita semua, silakan tinggal lebih lama lagi di Aceh,” tambah Zaini yang diiringi tepukan yang bergemuruh dari para peserta PENAS.
Dalam acara penutupan, selain Gubernur, turut pula hadir Sekjen Kementerian Pertanian RI Hari Purnomo, Ketua KTNA Pusat Winarno Tohir, para Bupati/Wali Kota, serta Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit. Kehadiran Wagub Sumbar tidak lain untuk mengambil tongkat pataka sebagai tuan rumah PENAS XVI di Sumatera Barat. Aceh telah meninggalkan sejuta cerita indah dan Sumatera Barat siap membuka halaman baru PENAS untuk dibubuhi cerita indah berikutnya pada 2020 mendatang.
Sementara itu, seorang petani kakao asal Luwu Utara, Hasmin, mengaku bersyukur bisa ikut PENAS kali ini. Menurutnya, di PENAS banyak ilmu yang bisa dipetik. Salah satunya pertanian secara modern dalam hal teknologi baru yang bisa diaplikasikan di daerah masing-masing, utamanya yang spesifik lokasi.
“Alhamdulillah, saya bisa ikut PENAS, karena banyak ilmu yang bisa kami ambil, utamanya tentang teknologi baru yang bisa kami tularkan di kampung kami,” tandas Hasmi yang juga diamini Made Sudarma, seorang petani padi di Mappedeceng. (Hms/Drs)


